Laman

13 November 2007

Timun emas

Ada seorang janda yang bertempat tinggal di desa dekat hutan. Janda tersebut mempunyai sebidang tanah yang ditanaminya sendiri. Hasilnya sang janda pun hidup berkecukupan. Namun ada satu hal yang diinginkan oleh janda itu yaitu seorang anak. Sang janda selalu berdoa agar ada orang yang memberinya anak, sebab jika janda itu menginginkan anak dari rahimnya, itu sesuatu yang tidak mungkin karena suaminya sudah meninggal.

Suatu hari, janda itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia bertemu dengan seekor raksasa yang tahu bahwa janda itu menginginkan seorang anak. Akhirnya raksasa memberikan sebuah timun emas yang katanya kelak akan menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Tetapi jika ia sudah besar nanti timun emas harus diserahkan kembali kepada raksasa.

17 tahun berlalu Timun emas menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Akhirnya, pada suatu hari raksasa mendatangi sang janda dan menyuruh menyerahkan Timun Emas. Paginya sang ibu menceritakan semuanya pada Timun Emas, siangnya Timun Emas berangkat memenuhi janji sang ibu terhadap raksasa dengan dibekali biji mentimun, duri, dan terasi dari ibunya. Timun Emas berangkat melalui pintu belakang. Karena raksasa tahun, dia mengejar Timun Emas.

Sesuai perintah ibunya dia melempar biji mentimun, berubahlah tempat itu menjadi hutuan mentimun. Ketika melihat mentimun yang buahnya besar-besar dan segar sang raksasa lupa pada Timun Emas, dan asyik makan mentimun itu. Setelah kenyang raksasa teringat akan Timun Emas dan mengejarnya.

Timun Emas melempar duri dan berubahlah tempat itu menjadi hutan yang penuh duri. Sang raksasa pun meraung-raung marah. Dengan susah payah, sakit terkena duri tak dirasakan ia berusaha menerobos hutan duri itu, danmakin kencang mengejar Timun Emas. Setelah dekat dia melempar satu-satunya bekal yang tersisa yaitu terasi dan berubahlah tempat itu menjadi lautan lumpur.

Tanpa pikar panjang raksasa menceburkan diri ke dalam lumpur itu dan mau berenang. Namun badannya yang besar itu membuatnya tidak bisa berenang, dan akhirnya tenggelam.

Timun Emas pun selamat, lalu kembali menelusuri jalan menuju ke pondoknya, ibunya pasti amat cemas pada dirinya.

Diceritakan kembali oleh Atina Rahmawati, Lukman Adi. P, M. Imam S. Ria Ersalina E.K

Tidak ada komentar:

Posting Komentar